Pilihan yang Berbeda!

http://colinfarrelly.blogspot.com
Bagaikan sel kanker yang menggerogoti tubuh manusia sedemikian hebatnya demikian pula imaji yang mampu tercipta di otak saya ketika membayangkan tentang BANGSA serta manusia yang ada di dalamnya. Sel kanker tercipta atas pembelahan sel tubuh yang tidak sempurna, rusak, gagal serta cacat. Kegagalan pembelahan yang dikarenakan oleh berbagai faktor internal dan eksternal ini menghasilkan sel kejam yang mampu membusukkan organ tubuh dan pada akhirnya membunuh organisme tersebut. Sebuah skema medis yang mampu menggambarkan kebobrokan sebuah bangsa tercipta mulai dari hal yang kecil dan dari dalam diri nya sendiri.

Tak perlu lagi memalingkan wajah, menyedengkan telinga atau memicingkan mata terlalu jauh. Fenomena yang sangat mengerikan atas bangsa bergelimangan dan berjatuhan dengan mudahnya disekitar kita, bahkan cukup di sebelah tempat kita sedang menghirup napas sekarang. Semua manusia melakukan kesalahan, melakukan dosa. Sebuah pernyataan yang dapat saya jamin tak akan mampu di bantah oleh siapapun di muka bumi. Apakah ini kemudian tidak memungkinkan tidak terjadi nya depresi hebat dan keputusasaan atas angan untuk memiliki suatu hidup berbangsa dan bernegara yang baik? Entahlah definisi baik seperti apa yang setiap orang miliki. Yang jelas definisi tidak baik yang saya percaya bersifat universal adalah ketika kita menekan remote televisi dan melihat tumpukan berita-berita yang mengantri dengan tak sabar. Berita yang sarat menggambarkan kemerosotan moral, kemesuman public figure, korupsi wakil rakyat atas uang rakyat sendiri, kemiskinan, kelaparan, pembunuhan sadis, penindasan, pemerkosaan, rasialis, individualistis, sarkastis, kapitalis, feodalis, materialis, dan sungguh masih terlalu banyak lagi yang dapat tersebutkan.

http://en.wikipedia.org/
Ah, lalu bagaimana dengan orang-orang beragama? Bukankah Indonesia adalah Negara beragama? Ya, bukankah sejujurnya kita menjadi lebih malu ketika harus mengakui bahwa orang yang mengaku beragama seringkali lagaknya justru lebih jauh memalukan dan tak mencerminkan agama daripada orang-orang yang secara pahit mendeklarasikan dirinya ateis dan tak mempercayai, atau tak mau tahu, mengenai ide tentang Tuhan. Lalu, siapa lagi sesungguhnya yang dapat di harapkan? Atau mungkin pertanyaannya sepantasnya menjadi masihkah ada harapan? Baiklah, adakah yang berani menjawab?

Kita memiliki sejumlah harapan yang diharapkan seharusnya kita alami tapi ternyata itu semua menjadi kontradiksi dengan depresi yang dalam, gambar diri yang rusak, lingkungan yang hancur, dikelilingi oleh orang-orang yang mengecewakan, atau mungkin kehilangan orang yang kita kasihi. Bahkan tak jarang harapan itu pun tak mampu ditemukan di dalam diri kita sendiri, sumber kebobrokan itu berjarak bukan lagi di sebelah kita. Tapi sumber kebobrokan itu pun sadar ataupun tidak disadari juga muncul dari dalam diri kita sendiri. Sungguh sangat mengerikan.

Solusi: Penghancuran atau pemulihan?

Memang mengerikan ketika harus menerima kenyataan bahwa tak ada solusi lagi. Lalu apakah lebih baik kita berdiam diri saja, toh pada akhirnya juga akan hancur semuanya? Atau justru kita mau meyakini sang Pencipta Agung sesungguhnya sangat mengasihi dan telah menentukan rancangan yang indah dari semula bagi ciptaanNya. Ia mencipta bukan untuk dihancurkan. Sehingga seharusnya ada sesuatu yang dilakukan untuk memulihkan?

Jika ingin ditilik lebih dalam lagi, setiap manusia memiliki nilai intrinsik yang tak dapat ditanggalkan dan disangkal yang dititipkan oleh sang Pencipta. Nilai yang terus berjuang di dalam hati nurani dan memberontak ketika tidak ditemuinya hal yang benar walaupun disangkal habis-habisan lewat perilaku sehari-hari. Nilai yang ternyata masih mampu diaktualisasikan secara nyata oleh tidak sedikit orang selama sejarah kehidupan manusia. Orang-orang yang mau berteriak menyuarakan kebenaran walaupun dibungkam, dibenci dan terusir oleh Negara ketika berjuang bagi kesejahteraan bersama, turun ke tepi jalan dan menyentuh dengan hangat kehidupan yang hamper membeku karena kerasnya zaman, berkoar-koar menentang rasialisme yang terlalu besar memakan korban jiwa, melindungi anak dan perempuan dari pada eksploitisasi, dan masih banyak lagi.

Sungguh masih adakah harapan itu? Ya! Lalu bagaimana harusnya itu terus teraktualisasi tanpa tergerus oleh zaman? Sesungguhnya harapan itu masih ada dan sepatutnya dibebankan pada pundak kaum intelektual muda, mahasiswa. Kaum yang sedang membangun kisi-kisi perspektif hidup secara ideal di dunia kampus. Kaum yang memiliki beribu alasan kuat untuk dipersiapkan agar mampu menantang zaman dan mengubahnya.

Talenta dan panggilan hidup.


http://www.sculpturegallery.com
Hippocrates (460 BC–370 BC) ribuan tahun yang lalu dalam teori tentang temperamennya bahkan telah mampu menemukan adanya keunikan dalam pribadi setiap manusia. Serta dengan lebih banyak teori susulan yang lahir dan mempertegas adanya suatu diferensiasi pada tiap manusia yang menghadirkan keberagaman dalam kehidupan. Itu menunjukkan bahwa setiap pribadi diciptakan unik! Keunikan manusia adalah karya intelegensia yang tak dapat terselami, karena tidak ada satupun manusia yang terduplikasi persis. Keunikan yang seharusnya dipakai untuk mengerjakan hal yang baik yang telah ditentukan sejak semula oleh Pencipta yang Agung

Sungguh alangkah indahnya jika setiap mahasiswa dapat menemukan sejak dini serta mengerjakan visi hidupnya secara spesifik sesuai dengan keunikan, talenta, potensi, bakat, minat natural yang dimilikinya. Mengerjakan hal-hal yang membuat dia sangat bersemangat dan efektif untuk memperbaiki rusaknya tatanan kehidupan manusia. Memaksimalkan setiap ilmu yang dia dapat dan mengintegrasikan dengan realita untuk diaplikasikan.

Konkritnya adalah dengan membuat sebuah budaya alternatif. Sebuah pilihan yang berbeda dari yang pernah ada di bangsa ini. Menjadi agen perubahan. Menjadi partner dari Sang Pencipta dalam merubah setiap bidang kehidupan yang sangat Ia kasihi namun telah dirusak. Belajar dan memaksimalkan aplikasi setiap keberagaman ilmu yang dimiliki dalam usaha memperbarui suatu budaya dan bidang kehidupan. Menjadi agen yang tak hanya unggul secara karakter namun kompetensi. Agen-agen yang bekerjasama dalam sebuah relasi penuh kasih yang mampu membungkam dunia dengan berani mengambil langkah radikal dalam mengembalikan sesuatu yang salah menjadi benar dengan apa yang menjadi keahliannya. Memperbarui seluruh bidang, baik di bidang ekonomi, hukum, sains, pendidikan, media elektronik, media cetak, olahraga, seni, budaya dan desain, sastra, teknik, informasi dan teknologi, kesehatan, filsafat, apapun itu. Menciptakan budaya alternatif yang dapat menjadi pilihan yang berbeda oleh masyarakat dan mampu mengubahkan di bangsa ini.

Sesungguhnya seseorang mampu mengubah karena terlebih dahulu diubahkan. Perubahan yang terjadi karena bersedia menanggalkan segala hambatan, kelemahan dan dosa. Mau memprioritaskan nilai dari suara nurani yang diberi sang Pencipta yang tak pernah dapat dibungkam. Tunduk dalam proses transformasi world view, yang merubah nilai dan kepercayaan yang berdampak pada perubahan perilaku sehari-hari. Sesuatu yang mustahil menjadi mungkin jika ada pengorbanan dan rela memberi dengan kasih. Saya pribadi telah mengalami hal tersebut, mengalami transformasi yang terus memaksa saya untuk memperbarui seluruh kehidupan dan akhirnya menjadi pengubah melalui visi yang telah dipercayakan di bidang media. Pengubah yang sama pula yang memampukan saya berpikir seperti yang telah tertuang di atas, dan merasa yakin jika seluruh manusia dan terkhususnya mahasiswa mengalami hal serupa akan mampu mengembalikan apa yang seharusnya telah dirancangkan oleh sang Pencipta. Mari bertransformasi dan berkarya!

From : Hezteen...