Pasangan Hidup pilihan kita

Kita sudah sering mendengar kata-kata ini pastinya "jodoh ditangan Tuhan". Klo teman2 yang pernah ikut kelas SOLL (School of Lay Leadership) di Rajawali pasti udah tau tentang hal ini. Aku ingin membahasnya lagi, sekaligus me- refresh lagi pelajaran tentang “Jodoh ditentukan oleh diri kita sendiri”

Ada beberapa hal dalam hidup ini yang tidak dapat kita tentukan sendiri, dalam artian Tuhan telah menentukan buat kita, misalkan : kita berasal dari suku mana, dilahirkan dalam keluarga apa, warna kulit kita, dls. Kita tidak dapat memilih hal ini.

Tapi apakah Tuhan juga sudah menentukan siapakah pasangan kita?? Jawabannya : Tidak.

Bahkan seseorang ingin menikah ataupun tidak pun, itu adalah pilihannya sendiri. Seperti Mother Teressa, Rasul Paulus dan masih banyak lagi. Dalam 1 Korintus 7 : 35-38 dikatakan “35. Semua ini kukatakan untuk kepentingan kamu sendiri, bukan untuk menhalang-halangi kamu dalam kebebasan kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu melakukan apa yang benar dan baik, dan melayani tanpa gangguan. 36. Tetapi jikalau seorang menyangka, bahwa ia berlaku tidak wajar terhadap gadisnya, jika gadisnya itu telah bertambah tua dan ia benar-benar merasa, bahwa mereka harus kawin, baiklah mereka kawin, kalau ia menghendakinya. Hal itu bukan dosa. 37. Tetapi kalau ada seorang, yang tidak dipaksa untuk berbuat demikian, benar-benar yakin dalam hatinya dan benar-benar menguasai kemauannya, telah mengambil keputusan untuk tidak kawin dengan gadisnya, ia berbuat baik. 38. Jadi orang yang kawin dengan gadisnya berbuat baik, dan orang yang tidak kawin dengan gadisnya berbuat lebih baik. 39. Isteri terikat selama suaminya hidup. Kalau suaminya telah meninggal, ia bebas untuk kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya”.

Kata-kata yang digarisbawahi diatas menyatakan bahwa Tuhan memberikan pilihan bagi kita. Kita bebas memilih untuk menikah ataupun tidak dan akan menerima konsekuensi dari pilihan kita tersebut.

Tuhan memang menyediakan bagi kita “orang-orang” yang bisa menjadi pasangan kita TETAPI Tuhan TIDAK menentukan siapa yang akan menjadi pasangan kita. Yang memilih adalah diri kita sendiri. Allah hanya menentukan standar yang seharusnya kita pakai untuk memilih pasangan kita.

Seperti halnya pilihan-pilihan lainnya dalam hidup kita, kita juga harus bertanggung jawab terhadap pilihan kita yang satu ini. Jadi kita tidak bisa menyalahkan Tuhan jika kita menikahi seorang pemabuk dan berakhir dengan dipukuli hingga babak belur, karena kitalah yang memilih “dia” untuk menjadi pasangan kita karena dari awal kita yang ngotot untuk menikahi “dia” dengan alasan cinta (hasil dari menikah karena cinta).

Oleh sebab itu kita perlu menggunakan standar Allah dalam membuat pilihan-pilihan dalam hidup terutama dalam menentukan pasangan hidup kita. Seperti kata beberapa orang : surga atau neraka di bumi ditentukan dengan siapa kita menikah nantinya. Bayangin aja, kurang lebih 30 tahun kedepan kita akan bangun disamping orang yang sama tiap harinya. Bertemu dan berinteraksi dengan orang yang sama tiap harinya.

Jika untuk makan sekali aja kita menentukan standar yang tinggi seperti harus bersih, ga pake MSG, enak, dls apalagi untuk hubungan seumur hidup? Seharusnya ini menjadi perhatian bagi kita. Ingat, pernikahan Kristen itu ibarat kita masuk melalui satu pintu dan ga ada jalan keluarnya alias sekali seumur hidup. Hehehehe, ngutip kata2nya ka flo. So, choose wisely

Udah dulu yah, sampe sini dulu..Besok-besok kita sambung lagi..God bless you