Mengenai Kegagalan Persipura

IVAnews - Pelatih PSMS Medan, Rudy William Keltjes memberikan dukungan moril bagi pelatih Persipura Jayapura, Jacksen F Tiago. Menurutnya, Jacksen sebenarnya tidak menginginan Mutiara Hitam mundur dari final Copa Indonesia 2008/2009.

"Saya yakin Jacksen sebenarnya tidak mau timnya mundur. Namun dia bisa bilang apa. Dia hanya pelatih, keputusan tentu ada di tangan yang punya uang," kata Rudy saat dihubungi VIVAnews, Senin, 29 Juni 2009.

Menurut Rudy, aksi mogok bukan solusi terbaik dalam sebuah aksi protes di lapangan. Dia juga menilai keputusan wasit adalah mutlak. Karena itu saat berhadapan dengan Persebaya pada play off Liga Super Indonesia (LSI) 2008/2009, Selasa, 30 Juni 2009, Rudy tidak menginginkan aksi yang dilakukan oleh Persipura itu terjadi lagi.

"Aksi mogok bukan contoh yang baik, jadi saya berharap jangan sampai dicontoh dan terjadi pada play off nanti," kata mantan pelatih Persipura Jayapura itu.

Persipura memilih untuk tidak melanjutkan laga final Copa Indonesia 2008/2009 kontra Sriwijaya FC, Minggu, 28 Juni 2009. Pertandingan terhenti di menit ke-60 dengan skor 1-0 untuk SFC. Meski telah dibujuk oleh PSSI dan Badan Liga Indonesia (BLI), jawara Liga Super Indonesia (LSI) 2008/2009 itu tak juga mau melanjutkan pertandingan.

Akibatnya, wasit pun memutuskan pertandingan dimenangkan SFC dengan skor 4-0. Pelatih Persipura, Jacksen F Tiago memilih untuk menahan diri dalam melotarkan komentar.

Dia mengaku tak ingin menyingggung siapapun dan menunggu hingga ketegangan mereda. "Saat ini, semua dalam keadaan emosional. Saya tidak mau salah berkomentar dan justru memperkeruh suasana. Suatu saat semuanya pasti akan terungkap," kata Jacksen.

Jacksen sebenarnya sangat terpukul dengan kejadian ini. Sebab ini kali kedua pelatih asal Brasil itu harus menyaksikan timnya kalah secara tidak terhormat. Sebelumnya, saat menangani Persebaya, Jacksen juga mengalami nasib yang nyaris sama. Saat itu dia masih menangani Persebaya Surabaya.

Pada babak delapan besar Liga Indonesia 2005/2006, Persebaya memutuskan untuk menarik diri. Manajemen Green Force beralasan, langkah itu terpaksa diambil demi kesalamatan suporternya Bonek yang ada di Jakarta.

Akibat aksi ini, Persebaya dijatuhi sanski dua tahun tak bisa tampil di pentas sepakbola nasional. Namun PSSI akhirnya membatalkannya dan memberikan kesempatan bagi Persebaya tampil di Divisi I.

"Saya tidak ingin banyak berkomentar. Kejadian ini saya anggap sebagai salah cobaan saja," tandasnya.• VIVAnews